Mengapa Membaca Ulang Terasa Seperti Belajar (Padahal Sebenarnya Tidak)
Kamu duduk untuk belajar.
Kamu membuka babnya. Kamu membacanya dengan cermat.
Kamu menyoroti bagian-bagian penting. Kamu membaca bagian yang disorot itu lagi. Kamu paham. Kamu merasa mengerti.
Dua minggu kemudian, ujian tiba. Kamu duduk.
Kamu membaca pertanyaan pertama. Kamu mengenali topiknya. Kamu membuka mulut untuk menjawab dan tidak ada yang keluar.
Ini bukan misteri. Ini adalah fenomena kognitif yang terdokumentasi dengan nama, penelitian bertahun-tahun, dan perbaikan yang mudah.
Ini disebut Ilusi Kompetensi.
Mengapa Keakraban Bukanlah Pemahaman
Otakmu adalah mesin pengenal pola. Ketika kamu menemukan sesuatu yang sudah pernah kamu lihat, sinyal spesifik akan menyala: ini sudah dikenal. Sistem kognitif mencatatnya sebagai usaha rendah, yang diinterpretasikan otakmu sebagai "sudah dipelajari."
Inilah mengapa membaca ulang terasa produktif. Materi mengalir.
Kamu mengenali istilah-istilahnya. Kamu mengikuti logikanya. Tapi yang kamu alami bukanlah belajar, melainkan kelancaran paparan.
Psikolog Nate Kornell menyebut ini "ilusi membaca ulang." Kamu membaca sesuatu sekali, rasanya samar-samar familiar. Kamu membacanya lagi, rasanya semakin familiar.
Otakmu salah mengira keakraban itu sebagai penguasaan.
Kata kuncinya: salah.
Perbedaan Antara Pengenalan dan Pengambilan Kembali
Ada dua cara otakmu mengakses informasi: pengenalan dan pengambilan kembali.
Pengenalan adalah apa yang terjadi ketika kamu melihat sesuatu dan berpikir "Aku tahu ini." Pengenalan membutuhkan konteks, hal yang kamu pelajari harus ada di depanmu agar otakmu memicu sinyal itu.
Pengambilan kembali adalah apa yang terjadi ketika kamu mengakses informasi tanpa petunjuk apa pun. Kamu menariknya dari ingatan. Kamu menghasilkannya sendiri.
Perbedaan ini sangat penting untuk seberapa baik kamu mengingat sesuatu.
Ketika kamu membaca ulang sebuah bab, kamu sedang melatih pengenalan. Teksnya ada di sana. Otakmu mengenali kontennya dan memberimu sinyal palsu tentang penguasaan.
Ketika kamu berlatih pengambilan kembali, menguji diri sendiri, menjelaskan tanpa melihat, menulis dari ingatan, kamu sedang melatih keterampilan sebenarnya yang kamu butuhkan pada hari ujian.
Ujian tidak memberimu buku teks yang disorot untuk dipindai. Ujian menanyakan pertanyaan.
Latihan pengambilan kembali melatihmu untuk itu.
Inilah mengapa Roediger dan Karpicke (2011) menemukan bahwa siswa yang menghabiskan waktu menguji diri sendiri mengingat lebih banyak secara substansial daripada siswa yang menghabiskan waktu yang setara untuk membaca ulang. Kelompok yang menguji diri sendiri melakukan latihan pengambilan kembali. Kelompok yang membaca ulang melakukan kelancaran pengenalan.
Jebakan Penyorotan
Menyoroti adalah salah satu kebiasaan belajar yang paling umum dan salah satu yang paling tidak efektif.
Ketika kamu menyoroti, kamu menandai informasi yang sudah kamu kenali. Kamu tidak menguji diri sendiri. Kamu tidak mengambil kembali. Kamu mengidentifikasi, pada saat itu, apa yang tampak penting. Tetapi tindakan menandai sebuah bagian hampir tidak memerlukan usaha kognitif, jadi itu tercatat sebagai mudah. Mudah terasa seperti kemajuan.
Lalu kamu kembali ke bagian yang disorot dan membacanya lagi.
Pengenalan menyala. Kamu merasa senang.
Kamu menutup buku.
Yang belum kamu lakukan adalah mengambil kembali apa pun. Kamu belum menarik konsep dari ingatan.
Kamu belum merekonstruksi argumen tanpa teks di depanmu. Kamu hanya mengekspos diri kembali pada informasi yang sudah kamu kenali.
Perbaikannya sederhana tetapi terasa salah: alih-alih membaca ulang sorotan, tutup buku dan tulis semua yang kamu ingat tentang bagian itu. Lalu buka buku dan periksa apa yang kamu benar. Kesenjangan itu, ketidaknyamanan karena tidak tahu, adalah tempat pembelajaran yang sebenarnya terjadi.
Psikolog kognitif menyebut ini "kesulitan yang diinginkan." Usaha pengambilan kembali, dikombinasikan dengan umpan balik dari pemeriksaan terhadap sumber, menghasilkan memori yang tahan lama. Kemudahan membaca ulang menghasilkan ilusi kompetensi.
Mengapa Kesulitan yang Diinginkan Berhasil
Setiap kali kamu berhasil mengambil sesuatu dari ingatan, kamu memperkuat jejak ingatan. Tindakan pengambilan kembali itu sendiri adalah yang mengkodekan informasi lebih dalam. Perjuangan bukanlah tanda bahwa kamu harus menyerah dan melihat buku, itu adalah mekanisme di mana pembelajaran terjadi.
Ini bertentangan dengan cara kebanyakan siswa mendekati belajar. Kebanyakan siswa ingin mengurangi kesulitan.
Mereka ingin itu terasa mudah. Mereka ingin mengurangi kecemasan tentang materi dengan mengekspos diri kembali sampai terasa familiar.
Tetapi keakraban dan penguasaan bukanlah hal yang sama. Dan semakin familiar sesuatu terasa, semakin kecil kemungkinan kamu menyadari bahwa kamu masih belum mengetahuinya.
Satu Pertanyaan yang Memperbaiki Ini
Lain kali kamu menyelesaikan sebuah bagian, tutup semuanya dan tanyakan pada dirimu satu pertanyaan:
Apa yang akan saya katakan jika seseorang meminta saya untuk menjelaskan ini dalam dua menit tanpa melihat?
Jangan hanya memikirkannya. Ucapkan dengan lantang, atau tuliskan.
Jangan mengintip. Lalu kembali dan periksa apa yang kamu lewatkan.
Kesenjangan itu, apa yang bisa dan tidak bisa kamu ingat, adalah peta yang tepat tentang apa yang sebenarnya kamu ketahui versus apa yang hanya terasa familiar.
Kamu mungkin akan terkejut dengan berapa banyak yang masuk ke dalam kategori "terasa familiar, tidak bisa dijelaskan."
Kejutan itu adalah saat pembelajaran nyata dimulai.
Ingin sistem yang membuat latihan pengambilan kembali otomatis? Piply menghasilkan kartu flash dari dokumenmu dan menjadwalkannya untukmu, jadi usahanya sudah ada, bukan manual. Coba di app.piply.ai
Siap mencoba Piply?
Jadikan artikel ini kenyataan Anda. Mulai belajar lebih cepat hari ini.
Mulai gratis