Piply Logo
Piply
study-tips

Latihan mengingat kembali: sains di balik mengapa menguji diri sendiri itu berhasil

Latihan mengingat kembali: sains di balik mengapa menguji diri sendiri itu berhasil

Latihan mengingat kembali: sains di balik mengapa menguji diri sendiri itu berhasil

Kamu sudah tahu rasanya. Kamu membaca ulang satu bab tiga kali, menyorot setengah halaman, membolak-balik catatan sampai ujungnya terlipat dan lusuh. Lalu ujian datang. Dan pikiranmu kosong.

Masalahnya bukan ingatan. Masalahnya adalah metode.

Inilah yang benar-benar berhasil: menarik informasi keluar dari otakmu, berulang-ulang, bahkan ketika terasa sulit. Para peneliti menyebutnya latihan mengingat kembali. Kamu mungkin mengenalnya sebagai menguji diri sendiri. Sainsnya sudah berakar selama puluhan tahun.

Efek pengujian yang tak pernah dibahas orang

Pada 2006, Henry Roediger dan Jeffrey Karpicke menjalankan sebuah eksperimen sederhana di Washington University. Mereka memberi para mahasiswa bacaan untuk dipelajari. Sebagian menghabiskan waktu dengan membaca ulang. Sebagian lagi membaca sekali, lalu menutup buku dan menuliskan semua yang bisa mereka ingat.

Mereka yang membaca ulang merasa lebih percaya diri. Mereka menilai diri lebih siap.

Tetapi ketika diuji seminggu kemudian, mereka yang menguji diri sendiri jauh mengungguli. Mahasiswa yang berlatih mengingat kembali mencetak skor sekitar 50% lebih tinggi pada tes retensi. Mereka bukan sekadar mengingat lebih banyak. Mereka mengingat lebih baik, lebih lama, dengan cara yang benar-benar bisa dipindahkan ke konteks baru.

Temuan ini telah direplikasi lintas bahasa, usia, mata pelajaran, dan format pengujian. Efeknya tetap berlaku ketika kamu menguji diri di atas kertas. Tetap berlaku ketika kamu mengucapkan jawaban dengan suara keras kepada siapa pun yang tak ada. Bahkan tetap berlaku ketika kamu salah menjawab sebelum mengoreksinya.

Roediger dan Karpicke menerbitkan karya mereka di Psychological Science. Para peneliti lain menemukan hasil serupa. McDermott dan Roediger (2014) menunjukkan bahwa efek pengujian bertahan bahkan ketika upaya mengingat kembali yang pertama gagal. Karpicke dan Blunt (2011) menunjukkan bahwa latihan mengingat kembali mengungguli pemetaan konsep, sebuah teknik yang dianggap banyak mahasiswa sebagai standar emas.

Mengapa ini berhasil?

Kesulitan yang diinginkan

Ketika kamu membaca ulang, otakmu meluncur santai. Ia mengenali materi. Terasa familiar. Tetapi mengenali tidak sama dengan mengingat kembali, dan keakraban tidak sama dengan belajar.

Mengingat kembali memaksa otakmu bekerja. Kamu memburu jawaban. Kamu mengerahkan tenaga. Kadang kamu gagal. Perjuangan ini, yang oleh Bjork dan Bjork (2011) disebut "kesulitan yang diinginkan", memberi sinyal kepada otakmu bahwa informasi ini cukup penting untuk diperjuangkan. Tindakan mengingat kembali memperkuat jejak ingatan.

Ada juga komponen fisiologis di sini. Latihan mengingat kembali meningkatkan aktivitas hipokampus dan memperkuat koneksi saraf. Setiap keberhasilan mengingat membuat yang berikutnya lebih mudah, tetapi prosesnya sendiri tetap menuntut usaha. Justru itulah intinya.

Usaha itu adalah fiturnya, bukan cacatnya.

Tetapi inilah jebakan yang dilewatkan kebanyakan artikel. Mahasiswa secara konsisten melebih-lebihkan seberapa baik membaca ulang mempersiapkan mereka. Mereka meremehkan mengingat kembali. Ini menciptakan lingkaran aneh: teknik yang terasa produktif sering memberi paling sedikit, sementara teknik yang terasa membuat frustrasi memberi paling banyak.

Inilah sebabnya begitu banyak mahasiswa menghindari menguji diri. Itu menyakitkan. Itu menyingkap kekosongan. Itu menimbulkan kecemasan, bukan kehangatan rasa lancar. Tetapi kecemasan itu adalah sinyal. Artinya otakmu sedang bekerja.

Mengapa menyorot kebanyakan hanya pelipur

Mari kita terus terang soal ini: strategi tinjauan pasif itu menggoda dan sebagian besar tidak efektif untuk pembelajaran yang tahan lama.

Menyorot menciptakan ilusi keterlibatan. Begitu juga membaca ulang. Begitu juga menyalin catatan kata demi kata. Strategi-strategi ini terasa seperti belajar. Matamu bergerak. Tanganmu menulis. Tetapi otakmu tetap pada mode otomatis.

Penelitian terus menunjukkan hal yang sama. Mengingat kembali secara aktif mengungguli setiap strategi pasif yang pernah kulihat diuji. Semua sorotan di dunia tidak akan menyiapkanmu untuk ujian yang memintamu menerapkan konsep. Kamu harus berlatih menerapkan konsep. Satu-satunya cara melakukannya adalah dengan mengingat kembali.

Tetapi aku ingin jujur padamu. Ini bukan berarti kamu tidak boleh membaca ulang sama sekali. Kadang kamu perlu membangun keakraban awal dengan materi sebelum bisa mengingatnya kembali. Kadang membaca ulang membantumu menyadari apa yang belum kamu pahami. Masalahnya adalah berhenti di situ.

Anggap membaca ulang sebagai hidangan pembuka. Mengingat kembali adalah hidangan utamanya.

Cara memakai ini

Kamu tidak butuh alat atau aplikasi canggih. Kamu butuh beberapa kebiasaan sederhana.

1. Baca sekali, lalu tutup bukunya.

Jangan baca ulang. Setelah lewat sekali membaca materi, tutuplah. Tuliskan semua yang bisa kamu ingat dengan kata-katamu sendiri. Setelah selesai, buka bukunya dan periksa apa yang terlewat. Pusatkan perhatianmu pada celah-celah itu.

2. Gunakan pengingatan bebas, bukan kartu hafalan.

Kartu hafalan punya tempatnya, tetapi sering mereduksi belajar menjadi pengenalan. Tulis jawaban penuh. Jelaskan konsep seolah-olah kamu sedang mengajari seseorang. Ini memaksamu menyusun pengetahuan, bukan sekadar mencocokkannya.

3. Beri jarak pada sesi mengingatmu.

Jangan menjejalkan seluruh latihan ke dalam satu sesi. Mengingat kembali bekerja paling baik ketika kamu menyebarnya sepanjang waktu. Dua puluh menit latihan mengingat selama tiga hari mengalahkan dua jam belajar dadakan malam sebelumnya.

4. Rangkul perjuangannya.

Jika mengingat kembali terasa mudah, mungkin kamu belum mengingat cukup dalam. Bekerjalah dari ingatan dulu. Periksa catatanmu hanya setelah kamu benar-benar mencoba. Kesulitan itulah pekerjaannya.

5. Uji diri sebelum meninjau catatan.

Kebanyakan mahasiswa membuat catatan lalu meninjaunya. Coba balik urutannya. Setelah kelas, tuliskan semua yang kamu ingat. Baru setelah itu lihat catatanmu untuk mengisi lubangnya. Kamu akan melihat apa yang sebenarnya kamu ketahui.

Jurang antara mengetahui dan melakukan

Inilah bagian yang membuat para peneliti frustrasi. Mereka terus menemukan bahwa latihan mengingat kembali berhasil. Dan para mahasiswa terus menghindarinya.

Mengapa? Karena rasanya tidak enak. Karena lebih sulit dilacak daripada jumlah halaman atau coretan stabilo. Karena umpan balik langsungnya sering negatif, dan manusia menghindari umpan balik negatif.

Tetapi kamu bukan kebanyakan mahasiswa. Kamu membaca ini karena ada sesuatu dalam pendekatanmu saat ini yang tidak berhasil. Mungkin kamu perlu mempercayai ketidaknyamanan itu. Mungkin jawaban yang tidak datang dengan mudah adalah jawaban yang layak diperjuangkan.

Lain kali kamu duduk untuk belajar, berhentilah sebelum meraih catatanmu. Tutup bukunya. Tuliskan apa yang kamu tahu.

Apa yang terjadi ketika kamu mencobanya?

Siap mencoba Piply?

Jadikan artikel ini kenyataan Anda. Mulai belajar lebih cepat hari ini.

Mulai gratis