Latihan Mengingat Kembali dan Fleksibilitas Pengetahuan: Mengapa Menguji Diri Membangun Pemahaman Sejati
Latihan Mengingat Kembali dan Fleksibilitas Pengetahuan: Mengapa Menguji Diri Membangun Pemahaman Sejati
Kamu pernah mengalaminya. Kamu membaca satu bab, menyorot beberapa bagian, mungkin membalik-balik catatanmu sekali lagi sebelum tidur. Kamu merasa sudah siap. Lalu ujian datang dan soal-soalnya sama sekali tidak seperti yang kamu duga. Kamu membeku. Informasinya ada di suatu tempat, tetapi kamu tidak bisa meraihnya.
Inilah yang terjadi. Tinjauan pasif terasa produktif karena hampir tidak memerlukan usaha. Matamu bergerak melintasi teks yang familiar, otakmu mencatat "ya, aku pernah melihat ini", dan kamu salah mengira kelancaran itu sebagai pembelajaran. Tetapi kelancaran adalah pembohong.
Pembelajaran sejati, jenis yang memungkinkanmu menjelaskan suatu konsep kepada teman yang kebingungan atau menerapkannya pada masalah baru, memerlukan sesuatu yang lebih sulit. Itu menuntutmu menarik pengetahuan keluar dari kepalamu tanpa melihat sumbernya.
Itulah latihan mengingat kembali. Dan ini adalah salah satu temuan yang paling didukung dalam psikologi kognitif.
Efek Pengujian
Pada tahun 2006, peneliti Roediger dan Karpicke melakukan eksperimen sederhana. Mahasiswa membaca sebuah teks pendek sekali. Lalu mereka dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mempelajari kembali teks tersebut. Kelompok lainnya menutup buku dan mencoba mengingat semua yang mereka bisa secara tertulis.
Setelah jeda singkat, kelompok yang mempelajari ulang tampil lebih baik. Tetapi setelah satu minggu, ada yang berbalik. Para mahasiswa yang menguji diri mereka mengingat jauh lebih banyak daripada mereka yang sekadar membaca ulang materinya.
Karpicke dan Roediger memperluas karya ini dalam sebuah studi tahun 2008 yang diterbitkan di Science. Mereka menemukan bahwa efek pengujian semakin kuat seiring waktu. Semakin keras kamu berusaha untuk mengingat kembali sesuatu, semakin besar pula imbalan usaha itu beberapa hari atau minggu kemudian.
Ini tidak intuitif. Kebanyakan mahasiswa berasumsi bahwa jika mereka tidak bisa mengingat sesuatu dengan segera, berarti mereka belum mempelajarinya dengan cukup baik. Mereka membaca ulang, menyorot, membaca sekilas. Strategi-strategi ini terasa benar karena nyaman. Tetapi kenyamanan bukanlah intinya.
Mengapa Mengingat Kembali Berhasil
Ketika kamu mencoba mengingat sesuatu, kamu tidak hanya mengakses informasi yang tersimpan. Kamu merekonstruksinya. Otakmu memperkuat jalur-jalur yang digunakan selama tindakan mengingat itu. Usaha mental itu sendiri adalah mekanisme pembelajaran.
Bayangkan seperti olahraga fisik. Jika kamu menonton orang lain mengangkat beban, ototmu tidak tumbuh. Kamu harus melakukan kerjanya sendiri. Latihan mengingat kembali adalah angkat beban mental.
Ada manfaat lain. Ketika kamu tidak bisa mengingat sesuatu, kamu telah mengidentifikasi sebuah celah. Perjuangan itu memberi sinyal kepada otakmu: ini membutuhkan lebih banyak kerja. Informasinya ditandai untuk pemrosesan yang lebih dalam. Bjork dan Bjork (2011) menyebut ini "kesulitan yang diinginkan". Kesulitan bukanlah tanda bahwa kamu melakukannya dengan salah. Itu adalah tanda bahwa kamu melakukan sesuatu dengan benar.
Pengujian juga membangun pengetahuan yang fleksibel. Jika kamu mempelajari sesuatu melalui pengingatan berulang, kamu tidak hanya menghafal satu rute tunggal menuju informasi itu. Kamu membangun banyak jalur, memperkuat jaringan konseptual yang mendasarinya. Itu berarti kamu bisa mengakses dan menerapkan apa yang kamu ketahui dalam konteks baru, bukan sekadar mengenalinya dalam format yang familiar.
Masalah Fleksibilitas
Di sinilah sebagian besar metode belajar gagal. Kamu bisa mengenali definisi seleksi alam ketika berada tepat di depanmu. Tetapi bisakah kamu menjelaskannya kepada seseorang yang belum pernah mendengar tentang Darwin? Bisakah kamu menerapkan konsep itu untuk memahami resistensi antibiotik?
Latihan mengingat kembali membangun jenis pemahaman ini. Ketika kamu berlatih menjelaskan konsep dari ingatan, kamu dipaksa untuk mengorganisasi informasi, mengidentifikasi apa yang penting, dan mengungkapkannya dengan kata-katamu sendiri. Kamu tidak hanya menyimpan fakta. Kamu membangun model mental yang koheren.
Model itu fleksibel karena telah dibangun, bukan sekadar diserap. Kamu bisa membongkarnya dan menyusunnya kembali untuk berbagai tujuan.
Cara Menggunakannya
Coba mengingat kembali lebih dulu, bukan terakhir. Sebelum kamu membuka buku teks atau catatanmu untuk bagian baru, tutup semuanya dan tuliskan semua yang sudah kamu ketahui tentang topik itu. Ini tampak keliru. Mengapa kamu menulis tentang sesuatu yang belum kamu pelajari? Karena upaya itu mengidentifikasi apa yang sudah ada di kepalamu dan menyiapkan otakmu untuk memperhatikan apa yang hilang saat kamu membaca nanti.
Buat kesalahan dengan sengaja. Ketika kamu menguji diri dan menjawab salah, itu adalah data yang berharga. Kesalahan itu menandakan sebuah celah. Tindakan mencoba dan gagal, lalu melihat jawaban yang benar, menciptakan jejak ingatan yang lebih kuat daripada sekadar membaca ulang materinya.
Tulis pertanyaanmu sendiri. Jangan menunggu kuis. Setelah membaca sebuah bagian, tutup teksnya dan susun pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ditanyakan kepadamu. Mintalah dirimu untuk menjelaskan konsep dalam bahasa sederhana, bukan hanya mendefinisikan istilah. Hubungkan ide dengan hal-hal yang sudah kamu pahami.
Gunakan kartu hafalan dengan cara yang sulit. Lihat pertanyaannya, coba ingat jawabannya sebelum membaliknya. Jika kamu hanya memindai kartu sampai jawabannya terlihat familiar, kamu menggunakan pengenalan, bukan pengingatan. Pengenalan itu lemah. Pengingatan itu kuat.
Beri jarak pada latihanmu. Mengingat kembali lebih berhasil ketika didistribusikan dari waktu ke waktu. Satu putaran pengujian itu bagus. Kembali ke materi yang sama sehari kemudian dan menguji lagi jauh lebih baik. Kornell dan Bjork (2009) menemukan bahwa pemberian jarak meningkatkan retensi jangka panjang bahkan ketika hal itu membuat kinerja jangka pendek terasa lebih sulit.
Apa yang Ditunjukkan Penelitian
Studi-studinya konsisten. Roediger dan Karpicke (2006) menunjukkan bahwa pengujian berulang menghasilkan retensi jangka panjang yang lebih baik daripada belajar berulang. Bjork dan Bjork (2011) menjelaskan mengapa kesulitan bukanlah hambatan untuk belajar, melainkan justru sebuah ciri darinya. Kornell dan Bjork (2009) menunjukkan bahwa pengingatan berjarak mengungguli latihan terpadat untuk ingatan yang tahan lama.
Temuan-temuan ini telah direplikasi di berbagai bidang. Mahasiswa yang menerapkan latihan mengingat kembali mengungguli mereka yang mengandalkan tinjauan pasif, bahkan ketika mereka menghabiskan jumlah waktu belajar yang sama.
Latihan mengingat kembali bukanlah trik atau jalan pintas. Ini adalah mekanisme mendasar tentang cara kerja ingatan. Ketika kamu menarik sesuatu keluar dari pikiranmu, kamu tidak hanya mengaksesnya. Kamu mengubahnya.
Intinya
Sebagian besar dari apa yang disebut mahasiswa sebagai belajar sebenarnya adalah membaca ulang. Itu terasa produktif. Jarang sekali demikian.
Latihan mengingat kembali itu tidak nyaman. Itu membuatmu sadar akan segala sesuatu yang tidak kamu ketahui. Ketidaknyamanan itulah intinya. Perjuangan itu bukan usaha yang sia-sia. Itu adalah mekanismenya.
Jadi sebelum sesi belajarmu berikutnya, tutup bukunya. Tuliskan apa yang kamu ingat. Bergulatlah dengan bagian-bagian yang sulit. Lakukan kesalahan. Lalu lihat, dan coba lagi.
Pengetahuan yang melekat adalah pengetahuan yang kamu perjuangkan.
Siap mencoba Piply?
Jadikan artikel ini kenyataan Anda. Mulai belajar lebih cepat hari ini.
Mulai gratis