Piply Logo
Piply
study-tips

Teori Beban Kognitif: Cara Belajar Tanpa Membebani Otak Kamu

Teori Beban Kognitif: Cara Belajar Tanpa Membebani Otak Kamu

Teori Beban Kognitif: Cara Belajar Tanpa Membebani Otak Kamu

Pernahkah kamu menatap catatanmu sampai matamu buram, hanya untuk menyadari bahwa kamu sama sekali tidak menyerap apa pun? Ya. Itu.

Inilah yang mungkin terjadi: kamu tidak malas. Kamu tidak bodoh. Kamu hanya meminta otakmu melakukan terlalu banyak hal sekaligus.

Itu bukan kata-kata penyemangat. Itu adalah teori beban kognitif, dan ini adalah salah satu gagasan yang paling didukung dalam psikologi pendidikan.

Apa yang Sebenarnya Dikatakan oleh Teori Beban Kognitif

Pada akhir 1980-an, seorang peneliti bernama John Sweller mengusulkan sesuatu yang terdengar jelas begitu kamu mendengarnya, tetapi benar-benar mengubah caramu mendekati belajar. Otak manusia memiliki memori kerja yang terbatas. Kamu hanya bisa menampung sejumlah informasi tertentu di kepalamu pada satu waktu sebelum hal-hal mulai berjatuhan.

Sweller, 1988, Cognitive Science. Dia tidak mengatakan kita harus berpikir lebih sedikit. Dia mengatakan kita harus berpikir lebih strategis tentang kondisi di mana pembelajaran benar-benar terjadi.

Teori ini membagi beban kognitif menjadi tiga jenis. Ada beban intrinsik, yaitu seberapa sulit materi itu sendiri. Buku teks biokimia memiliki beban intrinsik tinggi. Daftar kosakata memiliki beban intrinsik rendah. Lalu ada beban ekstrinsik, yaitu semua sampah yang tidak membantumu belajar: tata letak yang berantakan, informasi yang tidak relevan, penjelasan yang buruk, belajar di kedai kopi yang bising ketika kamu tidak bisa fokus. Dan akhirnya, ada beban konstruktif, yaitu upaya mental yang benar-benar membangun pemahaman yang bertahan lama, seperti membuat koneksi atau menciptakan model mental.

Inilah bagian yang dilewatkan oleh kebanyakan panduan belajar. Beban ekstrinsik adalah pemborosan murni. Ini memakan memori kerjamu tanpa memberikan imbalan apa pun. Jadi seluruh tujuan dari desain belajar yang baik, entah kamu merancang kursus atau hanya duduk dengan catatanmu sendiri, adalah meminimalkan sampah dan membebaskan ruang untuk hal-hal yang penting.

Efek Spasi Melakukan Pekerjaan Berat di Sini

Tapi Sweller tidak bekerja dalam isolasi. Sekitar waktu yang sama, peneliti seperti Robert Bjork sedang mempelajari sesuatu yang disebut "kesulitan yang diinginkan". Idenya adalah membuat pembelajaran sedikit lebih sulit dengan cara yang tepat, seperti memaksakan diri untuk mengingat sesuatu alih-alih hanya membacanya ulang, sebenarnya memperkuat memori. Bjork, 1994, dalam Learning, Remembering, Believing. Bukan karena menderita itu baik untukmu, tetapi karena latihan pengambilan memaksa otakmu bekerja lebih keras, dan upaya itulah tempat pembelajaran benar-benar hidup.

Gabungkan ini dengan apa yang ditemukan Ebbinghaus lebih dari seabad yang lalu dengan kurva lupanya, dan kamu mendapatkan gambaran yang jelas. Kamu melupakan banyak hal dengan cepat. Sangat cepat. Dalam hitungan hari, kadang berjam-jam, sebagian besar dari apa yang baru saja kamu pelajari mulai memudar. Satu-satunya penangkal yang dapat diandalkan adalah kembali ke materi pada interval yang meningkat. Roediger dan Butler, 2011, Trends in Cognitive Sciences, menyebut ini "latihan pengambilan", dan penelitian di baliknya sangat konsisten. Menguji diri sendiri mengalahkan membaca ulang setiap saat.

Jadi kembali ke catatanmu. Kamu menyorot tiga paragraf dengan warna berbeda. Kamu membacanya dua kali sebelum tidur. Kamu percaya diri. Tapi kepercayaan diri adalah pembohong di sini. Tanpa pengambilan aktif, tanpa memaksakan diri untuk menarik informasi itu dari memori, kamu belum mempelajarinya. Kamu hanya melihatnya.

Mengapa Pengaturan Belajarmu Mungkin Bekerja Melawanmu

Pikirkan seperti apa sesi belajar tipikalmu. Kamu membuka buku teks, mungkin menonton video kuliah, lalu segera beralih ke soal latihan. Terdengar baik? Mungkin tidak.

Ini eksperimen cepat. Baca satu paragraf padat dari buku teks mana pun. Jangan mencatat. Jangan menyorot. Baca saja sekali. Lalu tutup bukunya dan coba tulis semua yang kamu ingat. Kamu mungkin akan mendapatkan beberapa fragmen. Mungkin ide utamanya. Hampir pasti bukan detailnya.

Sekarang coba ini sebagai gantinya. Baca paragrafnya. Tunggu sepuluh menit. Lalu coba ingat kembali tanpa melihat. Kemudian lihat bagian spesifik yang kamu lewatkan. Penundaan kecil itu, celah itu, melakukan sesuatu. Ini memaksa otakmu bekerja sedikit lebih keras selama pengambilan, dan upaya itulah yang tepatnya mentransfer informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.

Ini adalah seluruh mekanisme di balik mengingat aktif dan pengulangan terjadwal. Kamu tidak belajar lebih banyak. Kamu belajar dengan cara yang bekerja dengan batasan otakmu alih-alih melawannya.

Cara Menggunakan Ini

Kamu ingin langkah-langkah praktis, jadi mari kita spesifik.

Pertama, pecah materimu menjadi potongan satu konsep sebelum kamu bahkan membuka catatanmu. Penelitian beban kognitif menunjukkan bahwa memori kerjamu dapat menangani sekitar empat item sekaligus, mungkin lebih sedikit jika itemnya kompleks. Jadi jangan duduk untuk "belajar Bab 5". Duduklah untuk menguasai satu ide. Satu. Lalu pindah ke yang berikutnya. Ini bukan tentang berjalan lambat. Ini tentang tidak membanjiri otakmu dan bertanya-tanya mengapa tidak ada yang melekat.

Kedua, hilangkan gangguan sebelum kamu mulai, bukan hanya selama. Menutup ponselmu itu baik. Menutup ponselmu sebelum membuka buku teks itu lebih baik, karena mengalihkan perhatian membawa biaya kognitif yang nyata. Setiap kali kamu memeriksa notifikasi, memori kerjamu harus memuat ulang konteks yang baru saja kamu tinggalkan. Kamu telah membakar energi mental tanpa belajar apa pun. Klingberg, 2009, The Overflowing Brain, membahas ini dengan istilah sederhana jika kamu ingin mendalaminya.

Ketiga, uji dirimu sebelum membaca ulang. Ini terasa salah. Kebanyakan orang membencinya. Tapi penelitiannya tidak ambigu di sini. Setelah membaca satu bagian, tutup bukunya dan tulis semua yang bisa kamu ingat. Berjuanglah sedikit. Perjuangan itu adalah pembelajaran. Lalu lihat apa yang kamu lewatkan, dan baca secara spesifik bagian-bagian itu. Kamu mengarahkan perhatianmu ke celah alih-alih memperkuat apa yang sudah kamu ketahui.

Keempat, beri jarak sesimu. Tinjau materi yang sama selama beberapa hari alih-alih menjejalkannya ke dalam satu sesi panjang. Gunakan sistem sederhana, bahkan hanya catatan kalender: "tinjau ini hari Selasa, lagi hari Jumat, lagi Kamis depan." Intervalnya tidak perlu tepat. Mereka hanya perlu ada. Kurva lupa itu nyata, tetapi setiap kali kamu terlibat kembali dengan materi, kurva lupa menjadi lebih datar.

Kelima, terjemahkan dan hubungkan alih-alih hanya mengonsumsi. Ketika kamu belajar sesuatu yang baru, coba jelaskan dengan kata-katamu sendiri, atau pikirkan bagaimana itu terhubung dengan sesuatu yang sudah kamu ketahui. Ini adalah beban konstruktif yang melakukan tugasnya. Kamu sedang membangun kerangka mental, dan kerangka itulah yang memungkinkanmu benar-benar menggunakan informasi nanti, bukan hanya mengenalinya.

Apa yang Bukan Artinya

Ini bukan berarti kamu perlu merombak seluruh hidupmu. Kamu tidak perlu kondisi sempurna, fokus sempurna, tidur sempurna (meskipun tidur sangat penting, dan itu layak untuk postingan tersendiri). Kamu hanya perlu berhenti belajar dengan cara yang menumpuk kesulitan yang tidak perlu dan mengharapkan hasil yang berbeda.

Tujuannya bukan membuat belajar menjadi nyaman. Tapi membuatnya efektif.

Otakmu bisa menangani banyak hal. Hanya saja tidak bisa menangani semuanya sekaligus, dan itu bukan kelemahan. Itu hanya cara kerjanya.

Apa bagian tersulit dari rutinitas belajarmu saat ini? Apakah volumenya, gangguannya, atau sesuatu yang sama sekali berbeda?

Siap mencoba Piply?

Jadikan artikel ini kenyataan Anda. Mulai belajar lebih cepat hari ini.

Mulai gratis